Menanam Kemerdekaan: Kemandirian Pangan Indonesia

21 September 2016

img_7024

Tepat pada 17 Agustus 2016, seluruh masyarakat dari segala penjuru Indonesia merayakan Hari Kemerdekaan ke-71 tahun. Tak terkecuali Yogyakarta. Beberapa komunitas turut memeriahkan HUT RI, melakukan aksi damai, lomba ala 17-an dan pawai. Seperti pawai Mahasiswa UGM di Bundaran UGM, serta komunitas sepeda ontel yang mengelilingi kota Yogyakarta mengendarai sepedanya. Namun lain halnya dengan Indmira, yang menggelar acara adopsi bibit secara gratis pada dua titik strategis yaitu Tugu Jogjakarta dan Jalan Sudirman. Aksi ini dipelopori oleh Indmira, bekerjasama dengan IAAS LC UGM dan BEM KM UGM.

Sekitar pukul 08.00, puluhan orang perwakilan dari Indmira, IAAS LC UGM dan BEM KM UGM terjun ke jalan membagikan 200 bibit hortikultura yang ditanam pada media botol minuman bekas. Penggunaan media tersebut untuk mengajak masyarakat menanam secara mudah: menggunakan bahan bekas. Aksi damai ini bukan tanpa alasan, tingginya impor bahan pangan di negara yang dikenal sebagai negara agraris ini menjadi keprihatinan mereka. Tercatat pada tahun 2014, impor beras 375 ribu ton, kedelai 3,3 juta ton, gula 65 ribu ton dan gandum mencapai 2,5 juta ton (Kementrian Pertanian, 2014). Dimulai menanam bibit secara mandiri, menjadi salah satu alternatif mengurangi tingginya angka impor serta langkah awal Indonesia mencapai kemandirian pangan.

Antusias masyarakat mengadopsi bibit sangat tinggi. Informasi terkait perawatan bibit diterima dengan baik, tak jarang yang aktif bertanya. Tak sampai 1 jam, 200 bibit telah habis. Bahkan banyak masyarakat kecewa karena tidak mendapatkan bibit dan berharap pembagian bibit gratis akan diadakan lagi.

Selain pembagian bibit, diskusi bertajuk “Menanam Kemerdekaan” membahas mengenai strategi kemandirian pangan bangsa. Diskusi sederhana, digelar di halaman Graha Sabha Pramana (GSP) UGM. Anang Fatkhurrochman penggerak komunitas Makanan untuk Bangsa didaulat sebagai pemateri. Dalam penyampaian materi diskusinya, mahasiswa TPHP UGM ini menyebutkan gerakanMakanan untuk Bangsa didirikan atas dasar keprihatinan melihat kurangnya aksi nyata mahasiswa mengurus masalah pangan.

Makanan untuk Bangsa memiliki misi melakukan lokalisasi pangan dengan gerakan makan non-nasi setiap Hari Sabtu, pengembangan desa, UMKM, dan pendidikan untuk anak yang kurang mampu. Dengan misi tersebut, diharapkan Makanan untuk Bangsa mampu membantu Indonesia mewujudkan kemandirian pangan”. Imbuhnya.

Amaliah pemateri lain dari slow Food juga menyampaikan, mencapai kemandirian pangan bukanlah hal yang sulit, Indonesia bisa mewujudkannya dengan memanfaatkan hasil pertanian disekitar secara maksimal. Seperti gerakan slow food, yang mengganti bahan baku emping dan so’un dengan bahan pangan lokal garut dan ganyong. Sehingga sumber-sumber pangan lokal bisa lebih termanfaatkan.

“Kesulitan bukan mengantarkan menuju kematian, namun kesulitan adalah awal untuk menciptakan ilmu dan perubahan”. Ujar Amaliah memberikan kata motivasi, sebagai penutup acara diskusi.

Siapkah kalian mewujudkan kemandirian pangan Indonesia dengan menanam kemerdekaan??

Kontak

Kantor Pusat:

Jl. Kaliurang km 16,3
Pakem, Sleman,
Yogyakarta
55582

Tel: 0274-895462
Fax: 0274-898269

h2b@indmira.com

Marketing office

Menara Prima I,
Unit B, 2nd floor
Jl.DR. Ide Anak Agung Gde Agung Blok 6.2,
Kawasan Mega Kuningan ,
Jakarta Selatan, 12950